Day 1 – Bali Trip 2011

Posted on August 8, 2011

0


Hari pertama di Bali, kami berencana melihat rumah yg sedang dibangun milik adik saya Ano, di daerah Nusa Dua. Sambil ngetes mobil sewaan.

Setelah dari Nusa Dua, kami pergi ke Denpasar, kawasan Renon, ke markas Bali DeVata. Berhubung sang pujaan hati ingin menonton pertandingan mereka mumpung lagi di Bali (katanya). Namun karcis untuk besok belum ada, karena kantornya baru selesai diresmikan. Akhirnya karena sudah hampir waktunya sholat Jum’at, kami tinggalkan Renon, menuju Sanur. Eits, bukan ke pantainya, melainkan untuk makan khas di rumah makan Mak Beng.

Wuih, sop ikan patin bumbu pedas, di tambah sepiring nasi dan sepotong ikan patin bakar dengan bumbu yg sama2 pedas…. Nasi panas, sop panas, dengan udara pantai yang panas….. Maknyusssss panasnya…. Hasilnya? Mandi keringat….. hahahaha……

Berhubung para bapak-bapak hendak sholat jumat, saya bersama Arya dan mbak Tika, berjalan2 di sekitar pantai Sanur. Sebenernya hanya jalan2 di pinggir, bukan di pantai, secara panas teriknya ga nahan….. (dan lupa pake sun block). Sambil menyusuri jalan setapak, melihat-lihat pedangan suvenir, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah Museum. Namanya Museum Le Mayeur. Siapakah dia?

Ternyata Le Mayeur (Adrien-Jean Le Mayeur) adalah seorang pelukis yang berasal dari Belgia (belgium), yang datang ke Bali, dan jatuh cinta dengan budaya Bali. Ia menyewa sebuah rumah di Denpasar dan berkenalan dengan seorang penari legong berumur 15 thn, Ni Nyoman Pollok, yang akhirnya menjadi model lukisannya.

Sejumlah karya Le Mayeur yang menggunakan Ni Pollok sebagai model dipamerkan di Singapura untuk pertama kalinya pada tahun 1933, yang kemudian sukses dan iapun terkenal. Kembali dari Singapore, Le Mayeur membeli sepetak tanah di Pantai Sanur dan membangun rumah. Di rumah yang menjadi studioini, Ni Pollok bekerja tia p hari sebagai model bersama 2 sahabatnya. Kecantikan dan kepribadian Ni Pollok membuat Le Mayeur menikmati rumah barunya di Bali. Awalnya, ia hanya akan tinggal selama 8 bulan, namun kemudian ia memutuskan untuk tinggal di pulau itu sampai akhir hayatnya.

Setelah 3 tahun bekerja bersama, pada tahun 1935, Le Mayeur dan Ni Pollok menikah. Sepanjang kehidupan pernikahannya, Le Mayeur tetap melukis dengan menggunakan istrinya sebagai model. Sisa ceritanya bisa baca di  http://id.wikipedia.org/wiki/Adrien-Jean_Le_Mayeur.

Oh iya, masuk museum kita membayar tiket masuk sebesar Rp 2.500 per orang dewasa. Anak-anak gratis. Kecuali turis asing, ada tarif tersendiri.

Setelah puas berputar-putar di dalamnya, Arya ingin menyusul ke Masjid, sekalian kami sholat dhuhur di sana. Mesjid di Sanur itu termasuk salah satu mesjid yang besar di Bali. Setelahnya kami kembali ke Renon, ke markas Bali DeVata untuk membeli tiket.

Inilah dia markasnya

Tiket yang kami beli adalah Tribun Utama, hanya Rp 25.000 saja…. sangat jauh jika di bandingkan nonton di Stadion Siliwangi atau Jalak Harupat, Bandung😦

Kuta

Karena waktu sudah menjelang sore, kami akhirnya ke pantai Kuta saja melihat sunset (padahal cuma menghabiskan waktu aja sebelum makan malam😀 ). Nah bedanya, kita tidak masuk melalui jalan pantai Kuta, kenapa? karena penuh sekali pastinya. Kita siasati dengan cukup datang ke Discovery Mall, yang mana di belakangnya langsung menghadap pantai Kuta…. hahahaha…… ga repot kan?😛

Sayangnya, pantai Kuta sekarang sudah kurang bersih, banyak pasir hitamnya dan sampah…..😦

Sunset at Kuta Beach

sstt… nampang dikit😛

Lanjut lagi besok yaa……..😀

Posted in: My Life