Keterbukaan Informasi di Era Informatika

Posted on August 5, 2010

0


Era keterbukaan informasi telah dimulai. Dimulai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan internet di berbagai sektor dan kalangan masyarakat. Meminjam istilah dari lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika” – Efek Rumah Kaca, telah dapat terlihat dampak yang ditimbulkan. Mulai dari meledaknya beberapa produk-produk teknologi komunikasi, komputer, hingga provider internet berlomba-lomba memberikan layanan terbaik dan tercepat. Memunculkan beberapa kehebohan beberapa tahun terakhir, seperti maraknya video-video amatir bernuansa “ranjang” hingga video-video lucu yang malah mentenarkan pemeran-pemerannya.

Tidak dapat dipungkiri pula, bahwa memang di setiap perkembangan jaman, terlebih perkembangan teknologi, akan selalu menimbulkan pro dan kontra. Namun pada akhirnya akan kembali kepada pengguna masing-masing. Bagaimana seharusnya teknologi tersebut dimanfaatkan untuk kemudahan dalam hidup kita. Salah satu yang bisa dikatakan dampak dari meluasnya penggunaan teknologi informasi, khususnya Internet, adalah keterbukaan informasi. Di mana-mana website bermunculan, berpromosi, dan khusus untuk sektor pendidikan membangkitkan sebuah gairah baru, yaitu e-publishing.
E-publishing termasuk di dalamnya e-journal, e-books, e-paper, telah mempermudah pada pelajar, akademisi dan industri untuk menyebarkan informasi secara cepat dan tanpa hambatan jarak dan waktu, serta menghemat biaya pengiriman dan biaya pencetakan. Muncul pula beberapa jasa konsultan yang menawarkan kemudahan mengakses semua informasi elektronik dalam satu portal atau pun satu gerbang akses. Efek negatif yang muncul adalah plagiarisme. Terutama dalam dunia pendidikan, di mana terkadang ada saja mahasiswa yang menempuh jalan pintas untuk lulus dengan mengambil sebagian besar (atau semua) karya orang lain sebagai hasil karyanya, yang ternyata di ambil dari akses-akses internet di kampusnya. Termasuk salah satunya yang menghebohkan sebuah Institut ternama di Indonesia.
Hal tersebut sempat membuat beberapa akademisi mengkhawatirkan terjadinya banyak praktek plagiarisme dengan dibukanya akses full-text ke berbagai karya ilmiah. Namun ada yang tidak disadari oleh kebanyakan orang termasuk paa akademisi tersebut. Sebuah karya yang telah diterbitkan dalam sebuah website resmi, tentunya telah dapat dilihat oleh jutaan orang di dunia. Jika ada seseorang yang menjiplak sebuah karya ilmiah yang telah diterbitkan, tentunya jutaan orang pun telah mengetahuinya, dengan sangat mudah. Terlebih dengan bantuan “Google.com”. Sebaliknya, jika sebuah karya ilmiah tidak diterbitkan, tentunya tidak banyak yang mengetahui isinya, dan jika ada yang menjiplak, tentu saja tidak akan mudah diketahui karena sumbernya pun tidak pernah terlihat.
Sebenarnya ada beberapa keuntungan dari era keterbukaan informasi ini, terutama untuk karya ilmiah yang bersifat “local content”:

  1. Anti-plagiasi. Tidak seperti yang diperkirakan pada awalnya, mempublikasikan local content secara full text justru akan menekan upaya plasgiarisme, karena seseorang tidak akan begitu berani untuk menjiplak karya ilmiah orang lain yang telah terpublikasikan dan terakses secara luas, yang tentunya lebih mudah untuk dikenal oleh banyak orang. Akses publik memungkinkan terbentuknya kontrol publik secara otomatis. Setiap usaha plagiasi yang dilakukan akan lebih cepat ditemukan dan dibuktikan.
  2. Mencegah duplikasi penelitian. Berbeda dengan usaha plagiasi yang sejak awal jelas-jelas berniat untuk menjiplak karya orang lain, terjadinya duplikasi penelitian disebabkan justru ketidaksengajaan seorang penulis karena minimnya akses terhadap informasi yang terbuka mengenai penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh penulis-penulis sebelumnya. Dengan dibukanya akses full-text, terutama penelitian yang bersifat local content, duplikasi penelitian semacam itu, dapat dihindari.
  3. Media promosi. Terbukanya akses local content akan menjadi sebuah media promosi tersendiri bagi penulis atau pun institusi yang bersangkutan. Banyak orang yang makin mengenal karya-karya kita, yang mungkin mengundang kita untuk menjadi pembicara atau bahkan melakukan kolaborasi dengan kita.
  4. Meningkatkan ranking Webometric. Di mana sebuah institusi pendidikan tinggi dapat terlihat keberadaannya di dalam dunia Web, dan mempromosikan publikasi dengan akses terbuka dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan. Semakin banyak akses informasi yang dibuka, semakin banyak orang akan mengakses website kita, dan semakin naik pula peringkat Webometrics kita di jajaran universitas lainnya di dunia. Saat ini, ITB masuk ke dalam peringkat 815 dunia, dan peringkat 74 di Asia. (http://www.webometrics.info)

Memang, teknologi itu seperti 2 belah mata pisau. Namun pada akhirnya, terlepas dari efek negatif yang ditimbulkan, mungkin dengan perkembangan teknologi ini pun dapat dijadikan sebuah alat pembelajaran moral bagi penggunanya untuk memanfaatkan teknologi secara baik dan benar.

Posted in: Bahasan Umum