Premenstrual Syndrome (PMS)

Posted on July 28, 2010

2


Pengen sedikit cerita ttg Premenstrual Syndrome atau yg biasa disingkat dengan PMS. Sebuah gejala biasa yang dialami oleh para wanita, diketahui oleh para pria namun tetap saja kurang dimengerti oleh pria. Karenanya, saya ingin sekali membagi pengetahuan ttg PMS ini. Setelah browsing sana sini, saya mendapatkan sebuah web yg cukup lengkap membahas ttg PMS, salah satunya adalah http://www.lusa.web.id/premenstrual-syndrome-pms-part-1/

Pengertian
Sindrom Pre Menstruasi (Premenstrual Syndrome, PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang berhubungan dengan siklus menstruasi (wikipedia).

Sindrom Pre Menstruasi adalah gejala fisik, psikologis dan perilaku yang menyusahkan yang tidak disebabkan oleh penyakit organik, yang secara teratur berulang selama fase siklus yang banyak mengalami regresi atau menghilang selama waktu haid yang tersisa (Magos).

Sindrom Pre Menstruasi adalah sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2 sampai hari ke-14 sebelum menstruasi dan mereda segera setelah menstruasi berawal (Shreeve, 1983).

Premenstrual syndrome (PMS) adalah kombinasi gejala yang terjadi sebelum haid dan menghilang dengan keluarnya darah menstruasi serta dialami oleh banyak wanita sebelum awitan setiap siklus menstruasi (Brunner dan Suddarth, 2001).

Insidensi
Insidensi atau angka kejadian dari sindrom pre menstruasi sekitar 80 persen. Studi epidemiologi menunjukkan kurang lebih 20 persen dari wanita usia reproduksi mengalami gejala PMS sedang sampai berat (Freeman, 2007). Sekitar 3-8 persen memiliki gejala hingga parah yang disebut dysphoric disorder (PMDD, Premenstrual Dysphoric Disorder).

Penyebab
Penyebab sindrom pre menstruasi belum jelas. Beberapa penyebab sindrom pre menstruasi antara lain:

  1. Ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron (kelebihan estrogen atau kekurangan progesteron dalam fase luteal dari siklus menstruasi).
  2. Faktor-faktor evolusi dan genetik.
  3. Gangguan fungsi serotonin.
  4. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak (dapat mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol produksi hormon estrogen dan progesteron).
  5. Kelebihan atau defisiensi kortisol dan androge.
  6. Kelebihan hormon anti diuresis.
  7. Abnormalitas sekresi opiate endogen atau melatonin.
  8. Defisiensi vitamin A, B1, B6 atau mineral, seperti magnesium.
  9. Hipoglikemia reaktif.
  10. Alergi hormon.
  11. Toksin haid.
  12. Stres dan masalah emosional (seperti depresi).
  13. Masalah sosial.
  14. Gaya hidup (kurang olahraga, diet tinggi gula, konsumsi tinggi garam, minum alkohol, konsumsi tinggi kafein).

Faktor Resiko
Beberapa faktor yang meningkatkan terjadinya sindrom pre menstruasi adalah:

  1. Wanita yang pernah melahirkan.
  2. Wanita yang sudah menikah.
  3. Usia yang semakin tua (antara 30-40 tahun).
  4. Stres.
  5. Mempunyai riwayat depresi (baik depresi pasca melahirkan).
  6. Faktor diet (kebiasaan makan tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat, minuman bersoda, produk susu, makanan olahan).
  7. Kekurangan zat gizi seperti kurang vitamin B (vitamin B6), vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng, mangan, asam lemak linoleat.
  8. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol.
  9. Kegiatan fisik (kurang olahraga).

Gejala Umum
Wanita dapat mengalami berbagai macam gejala sindrom pre menstruasi baik gejala emosional maupun gejala fisik.

Tabel. Gejala-gejala premenstrual syndrome

Gejala Fisik Gejala Emosional
Perut kembung Depresi
Nyeri payudara Cemas
Sakit kepala Suka menangis
Kejang atau bengkak pada kaki Sifat agresif atau pemberontakan
Nyeri panggul Pelupa
Hilang koordinasi Tidak bisa tidur
Nafsu makan bertambah Merasa tegang
Hidung tersumbat Irritabilitas
Tumbuh jerawat Suka marah
Sakit pinggul Paranoid
Suka makan manis atau asin Perubahan dorongan seksual
Palpitasi Konsentrasi berkurang
Peka suara atau cahaya Merasa tidak aman
Rasa gatal pada kulit Pikiran bunuh diri
Kepanasan Keinginan menyendiri
Perasaan bersalah
Kelemahan

Sumber : dikutip dari Rayburn et.al., (2001), halaman 287

Tipe
Tipe sindrom pre menstruasi menurut Dr. Guy E. Abraham (ahli kandungan dan kebidanan dari fakultas Kedokteran UCLA, AS) adalah:

  1. PMS tipe A (Anxiety).
  2. PMS tipe H (Hyperhydration).
  3. PMS tipe C (Craving).
  4. PMS tipe D (Depression).

PMS Tipe A (Anxiety)
Wanita yang mengalami sindrom pre menstruasi tipe A sekitar 80 persen. Gejalanya yang ditimbulkan antara lain rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil, depresi ringan sampai sedang sebelum mendapat haid. Gejala ini diakibatkan ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron (estrogen lebih tinggi). Penelitian lain juga mengatakan, sindrom pre menstruasi tipe A, kemungkinan kekurangan vitamin B6 dan magnesium. Terapi yang dapat diberikan meliputi: pemberian hormon progesteron, banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi.

PMS Tipe H (Hyperhydration)
Penderita tipe H sekitar 60 persen. Gejala yang ditimbulkan sebagai berikut: edema, perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan pada tangan dan kaki, berat badan naik sebelum haid. Pembengkakan ini terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstra sel) karena tingginya asupan garam atau gula. Terapi: pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh, mengurangi konsumsi garam dan gula, dan membatasi minum.

PMS Tipe C (craving)
Penderita sindrom pre menstruasi tipe C sekitar 40 persen. Gejala yang ditimbulkan antara lain: rasa lapar, hipoglikemia (kelelahan, jantung berdebar, kepala pusing). Hal ini akibat dari mengkonsumsi makanan yang manis, sehingga pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Penyebab lain adalah stres, diet tinggi garam, kekurangan asam lemak esensial (omega 6) ataupun magnesium.

PMS Tipe D (Depression)
Wanita yang mengalami sindrom pre menstruasi tipe D kurang lebih 20 persen. PMS tipe D terkadang muncul bersamaan dengn PMS tipe A. Gejala yang ditimbulkan antara lain: depresi, mudah menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit mengucapkan kata-kata (verbalisasi), rasa ingin bunuh diri. PMS tipe D murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen (progesteron lebih tinggi). Sedangkan kombinasi PMS tipe D dan tipe A disebabkan oleh stres, kekurangan asam amino tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal dalam tubuh, maupun kekurangan magnesium dan vitamin B6. Terapi: memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium.

Cara Mendiagnosa Sindrom Pre Menstruasi
Alat diagnostik yang dapat membantu adalah catatan harian menstruasi, yang berisi gejala-gejala fisik dan emosi selama berbulan-bulan. Jika perubahan-perubahan yang terjadi secara konsisten sekitar ovulasi (midcycle, atau hari ke 7-10 ke dalam siklus menstruasi) dan berlangsung sampai aliran menstruasi mulai, maka PMS kemungkinan adalah diagnosis yang akurat.
Tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosa wanita dengan PMS.

Kondisi yang Hampir Sama dengan Gejala PMS
Beberapa kondisi yang hampir sama meniru gejala sindrom pre menstruasi adalah:

  1. Depresi.
  2. Kecemasan.
  3. Menopause.
  4. Chronic fatigue syndrome (CFS) atau sindrom kelelahan kronis.
  5. Iritasi pada usus (IBS atau irritable bowel syndrome).
  6. Gangguan endokrin (hypothyroidsm).
  7. Penahanan air secara siklus (idiopathic edema).

Penanganan
Beberapa penanganan yang dapat digunakan untuk mengatasi sindrom pre menstruasi antara lain:

  1. Perubahan gaya hidup.
  2. Pengobatan.
  3. Terapi alternatif.

Perubahan Gaya Hidup
Langkah yang dapat merubah gaya hidup untuk mengatasi sindrom pre menstruasi antara lain:

  1. Olahraga dan aktivitas fisik secara teratur.
  2. Makan makanan bergizi (sayuran, makanan yang mengandung asam lemak esensial linoleat).
  3. Menghindari konsumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, minuman alkohol, kopi, minuman bersoda.
  4. Konsumsi vitamin B kompleks (vitamin B6), vitamin E, kalsium, magnesium dan omega 6.
  5. Istirahat cukup.
  6. Menghindari dan mengatasi stres (dengan pijat, relaksasi, curhat pada teman, menulis).
  7. Mengurangi atau menghindari rokok.
  8. Menjaga berat badan.
  9. Mencatat siklus haid dan mengenali gejala PMS.

Pengobatan
Pengobatan yang diberikan untuk mengatasi sindrom pre menstruasi antara lain:

  1. Diuretika (untuk mengatasi retensi cairan atau edema pada kaki dan tangan).
  2. Hormon progesteron dosis kecil (dilakukan selama 8-10 hari sebelum haid, untuk mengimbangi kelebihan estrogen).
  3. Analgetik (untuk meringankan gejala fisik, seperti kram, sakit kepala, sakit punggung dan nyeri payudara).
  4. Pil KB (untuk menghentikan ovulasi, meratakan fluktuasi-fluktuasi hormon ovari).
  5. Ovarian suppressors (untuk menekan produksi hormon indung telur).
  6. Anti depresan (untuk mengatsi gangguan suasana hati yang berhubungan dengan PMS).

Terapi Alternatif
Terapi alternatif dilakukan dengan pemberian vitamin dan mineral yang bertujuan untuk meringankan gejala sindrom pre menstrusi, antara lain:

  1. Asam folat (400 mikrogram).
  2. Kalsium dengan vitamin D (usia 9-18 tahun, 1300 miligram/hari; usia 19-50 tahun, 1000 miligram/hari; 51 tahun ke atas, 1200 miligram/hari).
  3. Magnesium (400 miligram).
  4. Vitamin B6 (50-100 miligram).
  5. Vitamin E (400 unit internasional).

Referensi
Aguspathy. 2008. Menstruasi. aguspathy.blogspot.com/2008/09/menstruasi.html diunduh 8 Juni 2010, 08:47 AM
Maulana, R. 2008. Hubungan Karakteristik Wanita Usia Produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Proposal penelitian. razimaulana.files.wordpress.com/2008/12/pms.doc diunduh 8 juni 2010, 09:16 AM
totalkesehatananda.com/pms1.html diunduh 8 Juni 2010, 09:17 AM wikipedia.org/wiki/Sindrom_pramenstruasi diunduh 8 Juni 2010, 08:35 AM
womenshealth.gov/faq/premenstrual-syndrome.cfm diunduh 8 Juni 2010, 08:43 AM

Setidaknya, dengan mengetahui secara lengkap, para wanita dan juga pria khususnya, bisa lebih mengerti.

Posted in: Bahasan Umum