Bersyukur apa adanya…

Posted on December 2, 2008

5


Ada yg komen ke gw beberapa hari terakhir ini.. terlebih lagi semenjak gw mulai rutin naik angkot lagi, baik berangkat gawe atau pun pulang gawe.. yang pada akhirnya, di sela-sela waktu, terciptalah bahasan ttg angkot..

Memang sih, semuanya berawal semenjak si Aa-ku sayang ini ditarik jadi konsultan proyek di Jakarta, yang berimbas kepada pola berangkat kerja gw. Yang biasanya bareng bermotor berdua, menjadi berangkot ria. Itu juga karena gw ga punya SIM C untuk bawa motor, dan belum keluarnya izin untuk bermotor pula… So, akhirnya, selama berangkot ria lah itu banyak menemukan kejadian-kejadian seputar angkot.

Mas Rayyan pernah berkomentar gini: “wah terpaksa naik angkot, karena mas didit nggak ada. Maaf ya Mbak“… hehehehe…. sebenernya gpp kok Mas… lha wong dulu aja, dari SMP ampe kuliah selalu ngangkot kok… itung-itung back to basic… cuma ya itu, bedanya angkot sekarang bikin ongkos jatuhnya lebih mahal ketimbang bermotor ria. Maklum lah, BBM naik mulu… bahkan sekarang diturunkan dikit pun, ongkos angkot ga ikut turun tuh… hihihihi…

Anyway.. semenjak si Aa sering ke Jakarta, diakui memang berkurang waktu ketemunya.. tapi ga masalah banget sih, tiap hari sempet chatting, walo dikit-dikit (berhubung sibuk tea..), malem jg sms plus nelpon… dan bedanya sekarang gw udah punya Arya… jadi ga terlalu ngerasa kesepian lah…


Lagipula, buat gw sebenernya jikalau harus pun berjauhan secara fisik, selama dalam hati terasa dekat, ga masalah. To feel him around altough he’s not, still makes me comfortable. Yang bahaya kan justru saat fisik berdekatan namun hati terasa jauh… dan gw masih sangat bersyukur diberi kenikmatan dan kesempatan untuk mendampingi si Aa, saat susah dan senang, saat dekat atau jauh, saat sehat maupun sakitnya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sering berpikir, betapa banyak orang berpisah hanya karena kekurangan-kekurangan yang dimiliki pasangannya. Padahal toh, bukahkah semua orang memiliki kekurangan? sepertinya lebih mudah melihat kekurangan orang lain ketimbang yang dimiliki diri sendiri. Gw sendiri lebih memilih untuk mensyukuri apa yg telah gw dapat dan gw berusaha menjalaninya sebaik mungkin.

Memang terkadang kenyataan tidak seindah harapan, akan tetapi bukankah menikah itu tidak didasarkan pada yang namanya harapan? seperti yang pernah ditulis oleh Alfa di post-nya yang berjudul “Indahnya Pernikahan dalam Islam“, bahwasanya Kalau pernikahannya dilandasi harapan, maka ia akan kecewa karena tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Namun kalau pernikahannya berangkat dari orientasi ketaatan kepada Allah, semua itu indah saja.

Menurut gw juga, memiliki rasa dicintai dan mencintai jauh lebih berharga ketimbang setumpuk materi dan ketenaran. Dan Alhamdulilah, itu yang gw rasakan hingga saat ini. Ga masalah kerja di mana pun jg, asal halal dan bertanggung jawab. Ga masalah berapa pun gajinya, selama dijalani dengan lapang dada. Ga masalah tinggal di mana pun, atau makan apa hari ini, setidaknya ada tempat tinggal dan masih bisa makan dengan layak. Selama kita saling memiliki… dan gw sangat bersyukur atas semuanya.

Indahnya…

*dedicated to Didiet dan Arya tersayang…

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: My Life