Angkotnya… atau penumpangnya….?

Posted on November 27, 2008

4


Klo kemaren ngomentarin seputar kelakuan angkotnya beserta supirnya, sekarang mo mencoba mengomentari seputar penumpang angkot… khususnya di bandung, berhubung gw tinggal di Bandung.

Yang pertama, penumpang angkot yang sopan dan tertib. Biasanya penumpang ini naik dan turun tanpa banyak mengeluh dan menuntut. Naik di tempat yang benar, turun di tempat seberhentinya angkot, dan membayar sebagaimana sang supir inginkan. Tidak pernah mengeluh meski ngetem, tidak pernah marah walo angkotnya berhenti lebih jauh dari tujuannya, dan tidak pernah menuntut jika uang kembaliannya kurang.

Penumpang yang selanjutnya, adalah penumpang yang kritis. Sebelum naik, dia harus memastikan dulu apakah trayek angkotnya melewati tempat tujuannya. Dia bahkan menanyakan berapa ongkosnya, dan saat hendak turun, dia memastikan bahwa angkot tersebut tidak berhenti terlalu jauh dari tempat tujuannya, dengan selalu mengingatkan sang supir dimana dia berhenti. (beberapa supir mengatakan, “bawel banget sih nih orang…”)

Ada pula, penumpang sok tau. Yang merasa benar tentang trayek angkot yg dinaikinya dan ongkos yg bakal dikeluarkan. Walo jelas terlihat di wajahnya, mimik kebingungan dan sepanjang jalan sibuk mengenali daerah yang dilewati angkotnya itu. Dan ketika turun, dengan PDnya membayar sejumlah uang, yang ternyata berbeda dari tarif seharusnya. (alias kurang). Saat diminta kekurangannya, dia sambil berlalu, blg dengan entengnya.. “biasanya juga segitu…”. Tanggapan supir..? “what the ****?”

Well itu secara general aja.. ada banyak tingkah laku penumpang angkot lainnya. Seperti naik dan turun di sembarang tempat. jadi kalo ada angkot berhenti di sembarang tempat, sebenernya karena faktor penumpang jg. Misalnya, jelas-jelas mobil ga boleh berhenti di belokan, tapi karena ada penumpang yg berdiri di sana (dengan dalih males jalan lagi).. jadi lah angkot berhenti di belokan… dan bikin macet jalan.

Juga karena penumpang yang ingin turun di tempat yg pas, sehingga saat itu juga dia harus turun. So macetin jalan juga akhirnya, Karena, dalam beberapa kasus, terkadang penumpang (yg di dalam angkot), saat dia bilang “kiri, mang..!”, ada yg tidak melihat situasi jalan di luar. Ga mungkin dong angkot tiba-tiba berhenti di tengah jalan besar dan dalam jalur cepat pula. Tapi si penumpang “keukeuh” harus turun disitu, hingga beberapa kali mengatakan “kiri, mang..!” dari nada rendah hingga nada tinggi. Dalam hal ini, sang supir terpaksa bersabar dan bereaksi cepat untuk membelokkan angkotnya meski beresiko di-klason-in banyak mobil di belakangnya.

Gw sendiri sih lebih memilih tetap tenang saat angkot ngetem di saat-saat terakhir jam masuk kantor, tetap tidak berargumen saat uang kembaliannya kurang… (kecuali klo bedanya lebih dari 5000 perak), dan melakukan perhitungan tepat jika ingin turun di tempat yang passss.

Aneh dan lucu.. tapi yaa namanya juga penumpang. berperan sebagai konsumen, dimana konsumen adalah raja.. hahahahha… maksa banget deh…😀

Tagged: ,
Posted in: Bahasan Umum