Anak memang memiliki ikatan batin yang lebih banyak ke ibu ketimbang ayahnya. Namun bukan berarti ayah menjaga jarak dgn anaknya. Bukan berarti pula, ibu memikul beban dan tanggung jawab yang lebih besar dari ayah.
Sesungguhnya ayah dan ibu memiliki tanggung jawab yg seimbang, hanya berbeda di aspek dan posisinya.
Tidak hanya ibu yg harus cerdas dan tanggap dalam mengatasi masalah dalam membesarkan dan mengasuh anak, ayah pun seyogyanya mampu mencari dan memahami informasi guna mendukung sang ibu.
Jadi, sungguh tidaklah tepat, jika anak bermasalah, baik secara fisik atau perilaku, ibu yang ditunjuk sebagai pelaku atau penyebab. Karena fungsi orang tua bekerja dari 2 aspek, ayah dan ibu.
Author Archives:
In My Sky At Twilight
This poem is a paraphrase by Pablo Neruda
of the 30th poem in Rabindranath Tagore’s The Gardener
In my sky at twilight you are like a cloud. and your form and colour are the way I love them.
You are mine, mine, woman with sweet lips and in your life my infinite dreams live.
The lamp of my soul dyes your feet, the sour wine is sweeter on your lips,
oh reaper of my evening song, how solitary dreams believe you to be mine!
You are mine, mine, I go shouting it to the afternoon’s wind,
and the wind hauls on my widowed voice. Huntress of the depths of my eyes,
your plunder stills your nocturnal regard as though it were water.
You are taken in the net of my music, my love, and my nets of music are wide as the sky.
My soul is born on the shore of your eyes of mourning.
In your eyes of mourning the land of dreams begin.
Liverpool FC Asia Tour 2011
Juli 2011 kemarin, kita berdua ngebela-belain pergi ke Kuala Lumpur buat nonton Liverpool FC dalam rangka Asia Tour-nya. Meski hanya semalem di Malaysia (kayak lagu aje nih
), kita cukup menikmati, karena banyak bertemu teman-teman dan menambah pengalaman karena baru pertama kalinya kami menginjakkan kaki di Negeri Jiran itu.
Curhat
Tweet terakhir saya di hari ini:
Curhat adalah sebuah kegiatan di mana “mendengarkan dan empati” menjadi hal utama ketimbang “sekedar berbicara dan menasihati”

Saya termasuk orang yang paling sering jadi tempat curhat teman-teman saya. Saking seringnya, saya amat sangat jarang curhat ke orang lain. Yang paling sering saya datangi yaa adik saya.. itu pun tidak semua hal saya curhati. Teman saya pun hanya 1-2 orang yang pernah saya “coba” ajak curhat, tapi tetap saja saya tidak bisa “full disclosure” karena entah mengapa saya merasa kurang nyaman untuk “curhat-curhat”.
They said, the closest person should be your very best friend.
Well, I guess I’m wrong. Saya pernah curhat kepada seseorang terdekat saya, dan hasilnya? saya malah dimisuh-misuhin alias dimarahin. Diberi solusi sih, tapi sambil marah-marah. Okay, that’s it. Saya kapok untuk curhat lagi.
Ada yg bilang, mungkin saya telah salah pilih orang. Namun saya berpikir, mungkin juga saya telah salah pilih media. Akhirnya solusi saya untuk curhat sejadi-jadinya, melalui tulisan di blog. Hmm, bukan yang ini tapi….
saya memiliki 1 buah blog yang isinya curhat dan misuhan saya.. hahahaha….
Penting
Ada sebuah pepatah yang mengatakan:
“It’s nice to be important, but it’s more important to be nice”
Hmm apakah itu artinya, tidak apa lah tidak menjadi seseorang yang penting selama anda orang yang baik? well, you know, kebutuhan seseorang menjadi “orang penting” adalah salah satu kebutuhan aktualisasi diri. Bahwa dirinya di akui orang lain, dibutuhkan orang lain, dianggap seseorang yang penting keberadaannya bagi orang lain.
Bayangkan saja, jika anda tidak dibutuhkan dalam suatu komunitas atau diacuhkan karena bukan orang yang penting, apa yang anda rasakan? Cukupkah jika anda merasa bahwa anda orang yang cukup baik bagi mereka, maka mereka akan menghiraukan anda? No, my dear… If you’re not important, then you are nothing….
Berbeda lagi jika anda dianggap penting, bukan karena mereka membutuhkan anda untuk kemajuan bersama, melainkan untuk mengerjakan hal yang mereka tidak ingin lakukan. Dan anda berada di posisi yang tepat untuk diminta, disuruh, atau apa lah itu, atau mgkn dimanfaatkan. Hanya sebatas itu saja. Sungguh menyebalkan bukan?
Oh sudahlah, anda tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak. Mungkin anda memang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan tidak bisa melakukan apa-apa… that’s why, you’re not important, dear….
Smartphone
Di era smartphone seperti sekarang ini, banyak sekali orang menjadi sibuk dengan handheld-nya.
Sampai-sampai, seorang teman pernah bercanda tentang teman kami yang sibuk memegangi handheld-nya setiap saat,
” jangan-jangan kalo pacaran saling reply tweet atau bbm-an, padahal duduk-nya sebelahan”
=))
Jadi berpikir, apakah komunikasi antar muka saat ini sudah tidak efektif lagi atau tidak diperlukan lagi?
Love quote of the day
Singapore 2011
Alhamdulilah….. dengan hasil berburu tiket murah, kami bertiga bisa main ke Singapura. Ga lama sih, hanya 3 hari 3 malam lah totalnya… Berkat AirAsia, kami cuma dapet tiket seharga Rp 50.000, dan totalnya bertiga plus pajak airport hanya Rp 600.000 PP! keren kan….
. Berangkat langsung dari Bandung, ternyata kita mendapat kesempatan menaiki pesawat Airbus, penerbangan perdana ke Singapura. Wow… Arya sampai terbengong-bengong ngeliat gedenya pesawat… hehehe….
Kami mendarat di Changi jam 1 siang waktu Singapura, sekitar 1 jam lebih cepat dari Bandung. Kesan pertama? Arya langsung nanya “lho ma, tangga-nya mana?” hahaha….. soalnya di Changi ini semua penumpang masuk ke pesawat menggunakan lorong (yang mirip belalai itu)
. Keluar lorong, kebingungan…. “mana nih exit-nya? baggage claim di mana?” wakakakakak….. ndeso…….
Bali Trip 2011
Bulan Maret 2011 kemaren saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi pulau Bali. Sepintas orang akan berpikir… “wih keren, Bali…” dan segala kemahalan yg menyertainya. Sebenernya memang sih Bali serba mahal, tapi tunggu dulu, banyak kok cara menyiasatinya.
Transportasi menuju Bali, salah satu aspek yg memegang peranan penting. Jalan darat dengan bis, kereta, lanjut dengan kapal Ferry memang bisa digunakan namun waktu perjalanan yang ditempuh pun akan menghabiskan 2 hari 2 malam. Saya sebelumnya pernah ke Bali saat masih kuliah dengan rombongan teman2 satu angkatan. Satu minggu habis untuk perjalanan pulang perginya.. sedangkan di Bali hanya dapet 2 hari saja…. kurang puas ya?
Nah, dengan dibukanya jalur penerbangan direct-filght dengan harga promo super murah, tingkat pengunjung ke Bali pun meningkat. Termasuk kami salah satunya. Caranya? terus awasi promo si maskapai, saat ada promo kursi murah (bahkan gratis), coba2 lah untuk memasukkan tanggal keberangkatan. Saya pun begitu. Meski terkadang jadwal terbang bisa sampai 6-12 bulan setelahnya. Tapi kenapa tidak? Intinya ya harus berani ambil resiko juga. Keuntungannya kita bisa menabung untuk bekal selama wisata di sana sambil menunggu tanggal keberangkatan. Saya dan keluarga beruntung sekali mendapatkan harga tiket cuma 50.000 rupiah (PP = 100.000 rupiah). Itu harga tiket saja lho ya? tapi jika di total pun, kami bertiga hanya habis sekitar 600.000 rupiah saja. Lumayan kan?
Akhirnya setelah menunggu hampir 8 bulan lamanya, kami berangkat pula ke Bali. Ini pun menjadi pengalaman pertama Arya naik pesawat. Setelah delay hampir 2 jam, kami berangkat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung. Arya dengan segala excitement, plus takut yg campur aduk, duduk tegang di kursinya. Hahahahaha…….
Proses take-off yg cukup “mengejutkan” membuat Arya sedikit takut, dan terdiam beberapa saat. Untungnya saat sudah di atas, dia mulai tenang, mulai “berkicau” sambil melihat awan dari kaca jendela.
Kami mendarat di Bandara Ngurah Rai sekitar jam 8 malam. Sebelum saya turun dari pesawat, saya melihat penumpang lain langsung berfoto-foto sesaat mereka turun. Hehehehe….. kami keburu letih ingin segera sampai di hotel untuk beristirahat. Kesan pertama? Udaranya PANAS……!!! hahahaha
Dan Arya pun langsung terlelap, sesaat menyentuh bantal.
Day 1 – Bali Trip 2011
Hari pertama di Bali, kami berencana melihat rumah yg sedang dibangun milik adik saya Ano, di daerah Nusa Dua. Sambil ngetes mobil sewaan.
Setelah dari Nusa Dua, kami pergi ke Denpasar, kawasan Renon, ke markas Bali DeVata. Berhubung sang pujaan hati ingin menonton pertandingan mereka mumpung lagi di Bali (katanya). Namun karcis untuk besok belum ada, karena kantornya baru selesai diresmikan. Akhirnya karena sudah hampir waktunya sholat Jum’at, kami tinggalkan Renon, menuju Sanur. Eits, bukan ke pantainya, melainkan untuk makan khas di rumah makan Mak Beng.
Apa tuh Mak Beng?


